Sejarah “Kopi Alas”

Akar di Lereng Muria: Warisan Kolonial dan Perjuangan Lokal
Kopi Alas berakar kuat di tanah subur Pegunungan Muria, khususnya di wilayah Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Sejarah kopi di kawasan ini sudah dimulai sejak masa kolonial Belanda, di mana biji kopi pertama kali ditanam di tanah vulkanik yang kaya mineral, menciptakan karakter rasa unik pada setiap panen.

Namun, Kopi Alas tidak lahir dari perkebunan besar, melainkan dari semangat gigih para leluhur petani lokal. Kawasan Tempur dan Damarwulan di Keling dikenal sebagai sentra kopi yang menyimpan cerita perlawanan. Konon, bibit kopi yang berhasil ditanam oleh warga merupakan hasil perjuangan diam-diam, dibawa dan disembunyikan di kedalaman hutan (alas dalam bahasa Jawa) agar terhindar dari pengawasan kolonial yang melarang warga pribumi menanam komoditas unggulan.

Filosofi nama “Kopi Alas” sendiri lahir dari sejarah ini. Alas (hutan) melambangkan ketangguhan, kearifan lokal, dan sumber kehidupan yang tersembunyi. Nama ini merupakan penghormatan pada leluhur yang berjuang menanam kopi di celah-celah hutan Muria, menjadikannya warisan yang terus hidup hingga kini.