Sejarah Susu Jahe
Berakar kuat pada pengobatan tradisional Asia selama ribuan tahun, menggabungkan manfaat jahe sebagai herbal penghangat dan penyembuh dengan susu, menjadi minuman khas di berbagai budaya. Seperti Tiongkok (sebagai ginger milk curd), Indonesia (dalam bentuk bandrek atau STMJ), dan Timur Tengah, yang berevolusi dari ramuan kuno menjadi minuman populer yang kini mudah ditemui di angkringan.
:format(webp)/article/52kaffaJqeVvmgf1bIk8I/original/4thqiczu39mrv838qhuaqjxdjhpkg4vc.jpg)
Asal-Usul dan Perkembangan:
- Jejak Kuno: Penggunaan jahe sudah tercatat sejak ribuan tahun lalu, bahkan Konfusius (abad ke-6 SM) tidak makan tanpa jahe, menunjukkan peran penting jahe dalam kuliner dan kesehatan.
- Tiongkok: Susu jahe (dadih susu jahe) adalah hidangan penutup panas yang berasal dari Shawan, Guangzhou, Tiongkok, menunjukkan pengolahan susu dan jahe dalam bentuk hidangan sejak lama.
- Indonesia:
– Bandrek: Minuman khas Sunda dari abad ke-10 hingga ke-20 yang terbuat dari jahe dan gula merah, kemudian ditambahi susu, cengkeh, dan lainnya seiring waktu.
– Wedang Jahe: Awalnya minuman petani, populer di kalangan elit Eropa di era kolonial, lalu menjadi bagian kuliner modern Indonesia sebagai simbol kehangatan dan kesehatan.
– STMJ (Susu Telur Madu Jahe): Inovasi dari susu jahe yang menjadi legendaris di Malang (muncul sekitar tahun 70-an) dengan tambahan telur dan madu untuk stamina. - Global: Susu jahe menjadi bagian dari pengobatan tradisional Asia dan Timur Tengah, memanfaatkan kandungan antioksidan dan anti-inflamasi dari jahe.
- Evolusi Menjadi Minuman Modern:
Dari ramuan herbal tradisional, susu jahe bertransformasi menjadi minuman yang dicari untuk manfaat kesehatan, seperti menghangatkan badan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kini, variasi susu jahe mudah ditemukan, dari yang klasik di angkringan hingga produk instan seperti Sido Muncul yang memadukan susu, gula aren, dan jahe bakar.