Warung Warkop yang Mengubah Takdir Indomie
Kisah ini dimulai dari sebuah warung kopi legendaris di Medan. Pemiliknya, seorang pria keturunan India-Muslim, ingin menyajikan sesuatu yang berbeda dari sekadar mie instan biasa yang direbus dengan sawi dan telur.
Dia mulai bereksperimen. Terinspirasi dari bumbu kari khas Asia Selatan yang kaya akan rempah, ia meracik bumbu rahasia sendiri. Ada jintan, kapulaga, ketumbar, adas manis, cabai kering, dan belasan rempah lain yang dihaluskan menjadi pasta berwarna merah kecokelatan yang pekat.
Ketika bumbu ini ditumis dan disatukan dengan sebungkus mi instan (biasanya Indomie Goreng), keajaiban rasa pun tercipta. Rasa gurih instan berpadu sempurna dengan kehangatan rempah yang intens, menciptakan karakter rasa baru yang bold dan bikin nagih.

Aroma khas rempah yang kuat langsung menusuk hidung begitu mangkuk itu diletakkan di atas meja. Di hadapan Anda, tersaji se porsi Mie Bangladesh—kuliner yang belakangan ini sukses bikin banyak orang rela mengantre panjang.
Meskipun namanya membawa kata “Bangladesh”, cerita sebenarnya justru lahir di tanah Sumatra, tepatnya di Kota Medan. Mari kita intip kisah di balik kelezatan kuliner yang satu ini.
Kenapa dinamakan Mie Bangladesh?
Konon, panggilan “Bangladesh” awalnya adalah julukan dari para pelanggan untuk sang pemilik warung yang wajahnya mirip dengan orang Bangladesh. Lambat laun, racikan mienya yang khas ikut melekat dengan nama tersebut.
